Filsafat ilmu beserta
cabang-cabangnya secara sederhana terbagi menjadi tiga macam yang menjadi lahan
kerja filsafat, nyaitu ontologi, epistemologi dan aksiologi. Ketiga dari lahan
garapan filsafat tersebut termuat dalam tiga pertanyaan dimana dalam ontologi
bertanya tentang apa. Pertanyaan apa tersebut merupakan pertanyaan dasar dari
sesuatu. Sedangkan dalam epistemologi mengenalinya dengan menggunakan
pertanyaan mengapa. Pertanyaan mengapa ini merupakan kelanjutan dari mengetahui
dasar dan pertanyaan mengapa merupakan kajian bagaimana cara mengetahuinya
tersebut. Sedangkan untuk aksiologi merupakan kelanjutan dari dari epistemologi
dengan menggunakan pertanyaan bagaimana. Pertanyaan bagaimana tersebut
merupakan kelanjutan dari setelah mengetahui dan cara mengetahuinya diteruskan
dengan bagaimanakah sikap kita selanjutnya.
a. Ontologi
Objek yang menjadi kajian dalam ontologi tersebut
adalah realitas yang ada. Ontologi adalah studi tentang yang ada yang
universal, dengan mencari pemikiran semesta universal. Ontologi berusaha
mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan atau menjelaskan yang ada
dalam setiap bentuknya. Ontologi merupakan studi yang terdalam dari setiap
hakekat kenyataan, seperti dapatkah manusia sungguh-sungguh memilih, apakah ada
Tuhan, apakah nyata dalam hakekat material ataukah spiritual, apak jiwa sungguh
dapat dibedakan dengan badan.
b. Epistemologi
Epistemologi studi tentang asal usul hakekat dan
jangkauan pengetahuan. Apakah pengalaman merupakan satu-satunya sumber
pengetahuan. Apakah yang menyebabkan suatu keyakinan benar dan yang lain salah.
Adakah soal-soal penting yang tidak dapat dijawab dengan sains dan dapatkah
kita mengetahui pikiran dan perasaan orang lain. Pengkajian dari epistemologi
adalah hakekat pengetahuan yang terdiri empat pokok persoalan pengetahuan
seperti keabsahan, struktur, batas dan sumber.
c. Aksiologi
Aksiologi atau etika studi tentang prinsip-prinsip dan
konsep yang mendasari penilaian terhadap prilaku manusia. Contohnya tindakan
yang membedakan benar atau salah menurut moral, apakah kesenangan merupakan
ukuran dapat dikatakan sebagai ukuran yang baik, apakah putusan moral bertindak
sewenang-wenang atau bertindak sekehendak hati. Sedangkan estetika studi yang
mendasarkan prinsip yang mendasari penilaian kita atas berbagai bentuk seni.
Apakah tujuan seni, apa peranan rasa dalam pertimbangan estetis, bagaimana kita
mengenal sebuah karya besar seni.
Teknologi sebenarnya merupakan peranan
ilmu pengetahuan untuk mengungkap aspek kehidupan manusia atau isi alam
semesta. Oleh karenanya sering pula dipakai terminologi ilmu dan teknologi
(sains dan teknologi). Maka, sesungguhnya makna teknologi yaitu memunculkan
atau melakukan penangkapan bagi suatu hal yang tersembunyi.
Secara langsung ataupun tidak, masyarakat
kurang memahami secara detail peranan sains dan teknologi dalam kehidupan.
Mereka hanya merasakannya dalam kehidupan saja. Pada zaman sekarang ini,
teknologi telah menjamur dan membudaya bahkan menyentuh hampir semua aspek
kehidupan masyarakat. Manusia memang memiliki hubungan yang erat dengan
teknologi dan sains begitupun sebaliknya. Dari uraian tersebut terlihat jelas
betapa pentingnya untuk mempelajari keterkaitan antara sains dan teknologi
dengan kehidupan masyarakat, karena bagaimanapun itu berguna untuk kemakmuran
dan kesejahtraan manusia.
A. Pengertian Sains, Teknologi, dan Masyarakat
1. Sains
Sains adalah sebuah ilmu
yang berkaitan dengan keadaan alam sekitar kita, baik penemuan baru dalam
bidang keilmuan, teori-teori baru yang dikemukakan oleh para ahli dan keadaan
perubahan lingkungan yang lainya. Sains sebagai proses merupakan langkah-langkah
yang ditempuh para ilmuwan untuk melakukan penyelidikan dalam rangka mencari
penjelasan tentang gejala-gejala alam. Dari sini tampak bahwa karakteristik
yang mendasar dari Sains ialah kuantifikasi artinya gejala alam dapat berbentuk
kuantitatif.
Sains merupakan
pengetahuan teoritis yang disusun secara khusus melalui metode ilmiah dengan
melakukan pengamatan. Perlu kita ketahui bersama bahwa sains terdiri dari tiga
elemen esensial yaitu dengan pencarian pemahaman, memiliki hukum –hukum atau
prinsip-prinsip dari generalitas paling tinggi dan dapat diuji secara
eksperimen. Akan tetapi pengertian sains tidak sampai pada hal itu
saja, sebab banyak perumusan lain yang berusa menjelaskan perihal
sains seperti yang nampak pada definisi Carin (1993) mendefinisikan sains
sebagai “ suatu kemampuan pengetahuan yang tersusun secara sistematis yang
dalam penggunaannya secara umum terbatas pada gejala-gejala alam”.
2. Teknologi
Kata teknologi berasal dari bahasa
”texere” yang berarti menyusun atau membangun. Akan tetapi, dikalangan
masyarakat yang pada umumnya mengartikan teknologi sebatas pada penggunaan
mesin dan sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, yang pada
kenyataan bahwa teknologi tidak terbatas pada penggunaan mesin itu saja.
Teknologi adalah sesuatu yang dapat
membuat orang lebih mudah dan simple dalam melakukan pekerjaanya. Penggunaan
teknologi oleh manusia diawali dengan pengubahan sumber daya alam menjadi
alat-alat sederhana. Perkembangan teknologi terbaru, termasuk di
antaranya mesin
cetak, telepon, dan Internet, telah memperkecil hambatan fisik
terhadap komunikasi dan memungkinkan
manusia untuk berinteraksi secara bebas dalam skala global.
Tetapi, tidak semua teknologi digunakan
untuk tujuan damai. Pengembangan senjata penghancur yang semakin hebat telah
berlangsung sepanjang sejarah, dari pentungan sampai senjata nuklir. Seperti halnya menurut
Gorokhov (1998) yang menyatakan bahwa teknologi memiliki tiga makna prinsip
yaitu:
a. Teknologi (secara
teknis) sebagai agrerat dari semua artifak-artifak manusia yang dipergunakan,
mulai dari perkakas sampai dengan sistem teknologis kompleks yang berskala
besar.
b. Teknologi sebagai
agregat dari seluruh aktivitas teknis, penemuan yang bersifat penciptaan dan
penemuan, riset dan pengembangan, dan tahapan-tahapan dalam penciptaan
teknologis yang berhasil, serta penyebarannya ke masyarakat secara luas.
c. Teknologi sebagai
agregat dari keseluruhan pengetahuan teknis, mulai dari teknik yang sangat
khusus dan praktik-praktiknya sampai pada sistem teknologis-saintifik teoretis
termasuk pengetahuan mengenai perekayasaan.
B.
Hubungan antara Perkembangan Sains dan Perkembangan Teknologi
Dalam penerapannya,ilmu pengetahuan
secara otomatis menghasilkan apa yang disebut teknologi. Ilmu pengetahuan dan
teknologi adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan, maka kita pun mengenal
istilah IPTEK(Ilmu Pengetahuan dan Teknologi). Ilmu pengetahuan bersifat
teoritis dan tidak berbentuk sedangkan teknologi bersifat praktis dan
berbentuk. Pada hakikatnya, ilmu pengetahuan dipelajari untuk mengembangkan dan
memperkokoh eksistensi manusia di bumi. Teknologi diciptakan untuk meringankan
dan membebaskan manusia dari kesulitan-kesulitan hidupnya yang sarat dengan
keterbatasan. Apa yang tadinya dikerjakan oleh tangan manusia telah digantikan
oleh mesin sehingga lebih efektif dan efisien.
Pada hakekatnya sains merupakan sebuah
produk dan proses. Sains melandasi perkembangan teknologi, sedangkan teknologi
menunjang perkembangan sains. Pada umumnya sains digunakan untuk aktivitas
dalam upaya memperoleh penjelasan tentang objek dan fenomena alam. Sedangkan
teknologi merupakan aplikasi sains yang dapat dijadikan upaya untuk
mendapatkan suatu produk yang dilakukan oleh manusia dengan memanfaatkan
perangkat-perangkat atau peralatan, proses dan sumberdayanya.
Dalam artian lain sains merupakan ilmu
yang sistematisasi, metodis dan logis yang diperoleh melalui penelitian.
Penelitian ini merupakan penyaluran hasrat ingin tahu manusia dalam taraf
keilmuan. Penelitian memegang peranan dalam :
1. Membantu manusia
memperoleh pengetahuan
2. Memperoleh jawaban suatu
pertanyaan
3. Memberikan pemecahan
atas suatu masalah.
Dari hal tersebut kita
dapat menyimpulkan bahwa ilmu pengetahuan itu mendorong munculnya teknologi dengan
teknologi mendorong adanya penelitian, dari penelitian tersebut menghasilkan
ilmu pengetahuan baru yang kemudian memunculkan teknologi baru. Dengan
demikian sains dan teknologi merupakan bagian yang tidak terpisahkan.
Perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi (iptek) yang cukup pesat sekarang ini sudah menjadi
realita sehari-hari bahkan merupakan tuntutan masyarakat yang tidak dapat
ditawar lagi. Tujuan utama perkembangan iptek adalah perubahan kehidupan masa
depan manusia yang lebih baik, mudah, murah, cepat dan aman.
Namun dalam
penerapannya,ilmu pengetahuan selalu mempunyai bias negatif dan destruktif.
Sekarang ini manusia justru terjebak ke dalam budaya konsumerisme sebagai
akibat dari ketergantungan manusia akan teknologi. Perkembangan dunia iptek
yang demikian pesatnya telah membawa manfaat luar biasa bagi kemajuan peradaban
umat manusia. Jenis-jenis pekerjaan yang sebelumnya menuntut kemampuan fisik
cukup besar, kini relatif sudah bisa digantikan oleh perangkat mesin-mesin
otomatis. Sistem kerja robotis telah mengalihfungsikan tenaga otot manusia
dengan pembesaran dan percepatan yang menakjubkan.
Begitupun dengan telah
ditemukannya formulasi-formulasi baru aneka kapasitas komputer, seolah sudah
mampu menggeser posisi kemampuan otak manusia dalam berbagai bidang ilmu dan
aktivitas manusia. Ringkas kata, kemajuan iptek yang telah kita capai sekarang
benar-benar telah diakui dan dirasakan memberikan banyak kemudahan dan
kenyamanan bagi kehidupan umat manusia. Bagi masyarakat sekarang, iptek sudah merupakan
suatu religion. Pengembangan iptek dianggap sebagai solusi dari permasalahan
yang ada. Sementara orang bahkan memuja iptek sebagai liberator yang akan
membebaskan mereka dari kungkungan kefanaan dunia. Iptek diyakini akan memberi
umat manusia kesehatan, kebahagiaan dan imortalitas. Sumbangan iptek terhadap
peradaban dan kesejahteraan manusia tidaklah dapat dipungkiri. Namun manusia
tidak bisa pula menipu diri akan kenyataan bahwa iptek mendatangkan malapetaka
dan kesengsaraan bagi manusia. Dalam peradaban modern yang muda, terlalu sering
manusia terhenyak oleh disilusi dari dampak negatif iptek terhadap kehidupan
umat manusia. Kalaupun iptek mampu mengungkap semua tabir rahasia alam dan
kehidupan, tidak berarti iptek sinonim dengan kebenaran. Sebab iptek hanya
mampu menampilkan kenyataan. Kebenaran yang manusiawi haruslah lebih dari
sekedar kenyataan obyektif. Kebenaran harus mencakup pula unsur keadilan. Tentu
saja iptek tidak mengenal moral kemanusiaan, oleh karena itu iptek tidak pernah
bisa mejadi standar kebenaran ataupun solusi dari masalah-masalah kemanusiaan.
Hubungan perkembangan
sains dengan perkembangan di bidang teknologi bisa dikatakan saling memiliki
keterkaitan. Misalnya, seandainya manusia tidak pernah menemukan kandungan besi
dari bumi, maka sekarang pasti tidak ada barang-barang yang terbuat dari besi.
Contohnya: Komputer, pisau, bahkan sendok besi. Beitu pula sebaliknya, jika
perkembangan teknologi sedang pesat, maka sudah pasti perkembangan sains saat
itu sedang berkembang dengan pesat pula.
C. Hubungan antara Sains, Teknologi,
dan Masyarakat
Pada dasarnya pendekatan sains teknologi
dan masyarakat dalam pandangan ilmu-ilmu sosial memberikan pemahaman mengenai
kepekaan penilaian seseorang terhadap dampak lingkungan. Keputusan yang dibuat
oleh masyarakat biasanya memerlukan penggunaan teknologi untuk melaksanakannya.
Bahkan, masyarakat dan ilmu pengetahuan (sains) membutuhkan teknologi sebagai
sarana untuk menyimpan dan mencari informasi.
Berdasarkan hal tersebut kita dapat
menarik suatu kesimpulan bahwa sains, teknologi dan niali sosial masyarakat
saling terkait satu sama lain. Hal ini sesuai dengan penjelasan
Widyatiningtyas, 2009 yang menyatakan bahwa ”sains merupakan suatu tubuh
pengetahuan dan proses penemuan pengetahuan. Teknologi merupakan suatu
perangkat keras ataupun perangkat lunak yang digunakan untuk memecahkan masalah
bagi pemenuhan kebutuhan manusia. Sedangkan masyarakat adalah sekelompok
manusia yang memiliki wilayah, kebutuhan, dan norma-norma sosial tertentu”.
Contohnya : Seorang anak sebagai anggota
masyarakat dengan kelas sebagai ruang belajar sains. Dalam pengalaman belajar
yang ditempuhnya, anak tersebut dapat mengidentifikasi potensi masalah,
mengumpulkan data yang berkaitan dengan suatu masalah, mempertimbangkankan
solusi alternatif dan mempertimbangkan konsekuensi berdasarkan keputusan
tertentu di dukung dengan adanya teknologi untuk mempublikasikan hasil
penemuannya yang dimana hal itu dapat bermanfaat bagi masyarakat. Kata
"kebudayaan" berasal dari kata Sansekerta yaitu buddhayah, ialah
bentuk jamak dari buddhi yang berarti "budi" atau "akal".
Dengan demikian kebudayaan dapat diartikan hal-hal yang bersangkutan dengan
akal. Kebudayaan adalah hasil karya manusia, yang meliputi hasil akal, rasa,
dan kehendak manusia. Oleh karena itu maka kebudayaan tidak pernah berhenti,
terus berlangsung sepanjang zaman, dan merupakan suatu proses yang memerlukan
waktu yang panjang untuk memenuhi keinginan manusia untuk lebih berkualiatas.
Apabila kebudayaan adalah hasil karya
manusia, maka ilmu sebagai hasil akal pikir manusia juga merupakan kebudayaan.
Namun, ilmu dapat dikatakan sebagai hasil akhir dalam perkembangan mental
manusia dan dapat dianggap sebagai hasil yang paling optimal dalam kebudayaan
manusia.
Ilmu adalah bagian dari pengetahuan yang
dapat berupa sains. Untuk mendapatkan ilmu diperlukan cara-cara tertentu yaitu
memerlukan suatu metode dan mempergunakan sistem, mempunyai obyek formal dan
obyek material yang kemudian dapat ditunjang dengan adanya teknologi.
Selain ilmu merupakan unsur dari
kebudayaan, antara ilmu dan kebudayaan terdapat hubungan pengaruh timbal-balik.
Perkembangan ilmu tergantung pada perkembangan kebudayaan, sedangkan
perkembangan ilmu dapat memberikan pengaruh pada kebudayaan. Keadaan sosial dan
kebudayaan, saling tergantung dan saling mendukung. Pada beberapa kebudayaan,
ilmu dapat berkembang dengan subur. Disini ilmu mempunyai peran ganda yakni
mendukung pengembangan kebudayaan dan mengisi pembentukan watak bangsa.
Dalam bahasa Latin, etika disebut dengan
moral yang memiliki pengertian kebiasaan atau kesusilaan mengenai baik, buruk,
semestinya, benar, salah dalam melakukan suatu hal yang dapat berupa ide
seseorang. Ketika manusia memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk tujuan praktis,
mereka dapat saja hanya memfungsikan idenya, sehingga dapat dipastikan bahwa
manfaat pengetahuan mungkin diarahkan untuk hal-hal yang destruktif.
Oleh karena itu, pada tingkat aksiologis,
pembicaraan tentang nilai etika(moral) adalah hal yang mutlak. Nilai ini
menyangkut manusia dalam mengembangkan ilmu pengetahuan untuk dimanfaatkan bagi
sebesar-besar kemaslahatan manusia itu sendiri. Karena dalam penerapannya, ilmu
pengetahuan juga mempunyai bias negatif dan destruktif, maka diperlukan nilai
dan norma untuk mengendalikan potensi ide manusia ketika hendak bergelut dengan
pemanfaatan ilmu pengetahuan sehingga menghasilkan pengetahuan yang baik. Di
sinilah etika menjadi ketentuan mutlak, yang sangat berperan penting bagi
pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan derajat hidup
serta kesejahteraan dan kebahagiaan manusia.
Contohnya: Dalam membuat atau memanfaatkan
ilmu pengetahuan, moral seseorang sangat di tentukan, yang dimana apakah
orang tersebut akan memunculkan ide buruk atau baik dalam pemanfaatan ilmu
pengetahuannya dengan ditunjang oleh keberadaan teknologi canggih. Dalam hal
ini, apabila seorang memanfaatkan ilmu pengetahuan dengan lebih mementingkan
ego dari pada hati nurani, maka kebaikan yang diperoleh dan hasil perolehan
ilmu pengetahuannya akan sangat minim, sebab tidak berdampak baik bagi
kehidupan masyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar